English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label tenggorokan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tenggorokan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2011

Nasogastrik Tube (NGT)




INDIKASI
  1. Aspirasi cairan lambung
  2. Untuk memasukkan nutrisi atau makanan bagi pasien yang sulit menelan.
  3. Untuk mendiagnosis suatu penyakit
  4. Bilas lambung pada keracunan
KONTRAINDIKASI
  1. Pasien dengan trauma cervical
  2. Pasien dengan fraktur facialis
  3. Pasien dengan varises oesophagus
ALAT DAN BAHAN
  1. Selang nasogastrik tube
  2. Jelly
  3. Pinset steril
  4. Sarung tangan
  5. Stetoskop
  6. Spoit 10cc
  7. Plester
  8. Senter kecil
CARA PEMASANGAN

  1. Mintalah persetujuan pasien sebelum melakukan tindakan pemasangan NGT. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan pemasangan, proses pemasangan, serta alat yang digunakan
  2. Persiapkan alat dan bahannya. Setelah itu letakkan di tempat yang mudah dijangkau.
  3. Cuci tangan rutin. Gunakan sarung tangan.
  4. Posisikan pasien. Jika pasien dalam keadaan sadar, posisikan pasien setengah berbaring. Namun jika pasien dalam keadaan tidak sadar, posisikan pasien dalam keadaan berbaring, kepala diangkat sedikit atau diberi pengganjal agar lurus.
  5. Perhatikan cavum nasi (rongga hidung) pasien, apakah ada polip, benda asing, yang menyebabkan sumbatan pada hidung
  6. Pilihlah cavum nasi yang paling longgar untuk selang NGT masuk.
  7. Ukurlah panjang selang yang akan dimasukkan mulai dari puncak hidung ke telinga, lalu dari telinga ke Proc. Xiphoideus. Berikan tanda
  8. Oleskan selang dengan jelly
  9. Jepit selang dengan pinset dan masukkan perlahan ke dalam cavum nasi, jika terjadi tahanan, instruksikan pasien untuk menelan agar epiglottis terbuka.
  10. Setelah selang NGT masuk mencapi tanda yang telah diukur tadi, ujilah apakah selang telah masuk ke dalam lambung dengan cara isilah udara ke dalam spoit 10cc lalu hembuskan secara cepat ke dalam selang NGT lalu dengarkan dengan stetoskop yang telah diletakkan pada epigastrium. Jika terdengar bunyi suara, berarti selang telah masuk ke dalam lambung. Tes ini wajib dilakukan karena ditakutkan NGT masuk ke dalam paru-paru yang dapat menyebabkan aspirasi.
  11. Rekatkan NGT dengan menggunakan plester, plester jangan sampai menutupi rongga hidung.
  12. Jika cairan lambung banyak yang keluar, maka berikanlah wadah penampungan.
  13. Selang harus diganti setiap 10 hari. 
Sumber : Artikelkedokteran.com

    Minggu, 24 April 2011

    DIFTERI

    Difteri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya pada anak anak. Penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi.

    Penyebab

    Difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, suatu bakteri gram positif yang berbentuk polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini biasanya
    menyerang saluran pernapasan, terutama laring, amandel dan tenggorokan. Tetapi
    tak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakan saraf
    dan jantung.

    Gambaran klinik
    -Gejala utama dari penyakit difteri yaitu adanya bentukan pseudomembran yang merupakan hasil kerja dari kuman ini. Pseudomembran sendiri merupakan lapisan tipis berwarna putih keabu abuan yang timbul terutama di daerah mukosa hidung, mulut sampai tenggorokan yang mudah berdarah bila disentuh. Disamping menghasilkan pseudomembran, kuman ini juga menghasilkan sebuah racun yang disebut eksotoxin yang sangat berbahaya karena menyerang otot jantung, ginjal dan jaringan syaraf.





    - Masa tunas 2 – 7 hari
    - Penderita mengeluh sakit menelan dan napasnya terdengar ngorok (stridor),
    pada anak tak jarang diikuti demam, mual, muntah, menggigil dan sakit kepala.
    - Penderita tampak sesak napas dengan atau tanpa tanda obstruksi napas.
    - Demam tidak tinggi.
     - Tampak pembesaran kelenjar limfe di leher (bullneck)



    Gejala ini tidak selalu ada:
    •  Sumbatan jalan napas sehingga penderita sianosis
    •  Napas bau
    •  Perdarahan hidung
    - Inflamasi lokal dengan banyak sekali eksudat faring, eksudat yang lekat di
    mukosa berwarna kelabu atau gelap dan edema jaringan lunak. Pada anak,
    fase penyakit ini dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas.
    - Penyakit sistemik yang disebabkan oleh toksin bakteri dimulai 1 – 2
    minggu sesudah gejala lokal. Toksin mempengaruhi jantung (miokarditis,
    aritmia terutama selama minggu kedua penyakit) dan sistem syaraf
    (paralisis, neuritis 2 – 7 minggu sesudah onset penyakit). Bila pasien
    sembuh dari fase akut penyakit, biasanya sembuh tanpa kelainan penyerta.

    Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :

    - Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
    - Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
    - Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

    Disamping itu, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien :

    - Difteri hidung bila penderita menderita pilek dengan ingus yang bercampur darah.
    - Difteri faring dan tonsil dengan gejala radang akut tenggorokan, demam sampai dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat, tampak lemah, nafas berbau, timbul pembengkakan kelenjar leher. Pada difteri jenis ini juga akan tampak membran berwarna putih keabu abuan kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding belakang mulut (faring).
    - Difteri laring dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas.
    - Difteri kutaneus dan vaginal dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa apa.


    Diagnosis

    Kebutuhan untuk mendapat terapi diputuskan atas dasar anamnesis dan gambaran klinis.
    Diagnosis dikonfirmasi dengan kultur bakteri yang diambil dari eksudat ke dalam
    tabung untuk sampel bakteri. Sampel harus dikultur pada media khusus, untuk itu
    perlu terlebih dahulu memberitahu laboratorium. Sediaan apus diambil 3 hari
    berturut-turut.

    Penatalaksanaan
    Untuk Pasien yang asimtomatik diberikan profilaktik antibiotik eritromisin.

    Tetapi, melihat bahayanya penyakit ini maka bila ada anak yang sakit dan ditemukan gejala diatas maka harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. Pasien biasanya akan masuk rumah sakit untuk diopname dan diisolasi dari orang lain guna mencegah penularan. Di rumah sakit akan dilakukan pengawasan yang ketat terhadap fungsi fungsi vital penderita untuk mencegah terjadinya komplikasi. Mengenai obat, penderita umumnya akan diberikan antibiotika, steroid, dan ADS (Anti Diphteria Serum).


    Dengan pengobatan yang cepat dan tepat maka komplikasi yang berat dapat dihindari, namun keadaan bisa makin buruk bila pasien dengan usia yang lebih muda, perjalanan penyakit yang lama, gizi kurang dan pemberian anti toksin yang terlambat.
    Walaupun sangat berbahaya dan sulit diobati, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan cara menghindari kontak dengan pasien difteri yang hasil lab-nya masih positif dan imunisasi.




    SUMBER : www.blogdokter.net , www.penyakitdalam.wordpress.com

    nhini.imud.ndud.qiyut

    nhini.imud.ndud.qiyut