English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label PSIKIATRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKIATRI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Pengalaman Ngompol Pertama saat koskap di PSIKIATRI

Well Well Well. Finally, koskap di bagian Psikiatri atau Ilmu  Kejiwaan sudah selesai. Jika gue ditanya apa bagian "jiwa" itu menarik, jawab gue, VERY VERY INTERESTING ! gue suka banget bagian ini. Dokter-dokter residennya baiiiikk banget !! Dokter Supervisornya juga baik. But terkecuali "penguji" gue.

Well, bagian Psikiatri ini adalah bagian pertama gue memasuki dunia "KOAS" (KUMPULAN ORANG-ORANG STUPID) dan apa jadinya kalau gue baru pertama kali menginjakkan kaki gue di dalam RUMAH SAKIT JIWA YANG PENUH DENGAN MANUSIA SAKIT JIWA ? The Answer is : Gue sempat pipis di celana !! hahahaha. Lucu banget kalau ingat pengalaman dan "hari" pertama ku di rumah sakit Dadi makassar.

Saat itu, gue ditugaskan dinas di Bangsal. Karena di bangsal, gue hanya duduk-duduk doang sambil perhatikan dokter residen meng-auto-anamnesis-pasien, gue penasaran dan ingin lihat bagaimana rupa sang "orang gila" yang dirawat di UGD alias UNIT GAWAT DARURAT alias ORANG YANG MASIH GILA, DAN SANGAT GILA.

Saat itu, gue dengan gagah berani nya masuk ke ruangan UGD sambil melihat-lihat pasien. Ada pasien yang berteriak "MAMAAAA." "BAKSOOO" sambil berjalan tak tahu arah. Ada juga pasien yang meludahkan dirinya sendiri. But, yang paling membuat gue sampai Pipis di celana adalah pada saat gue melihat satu orang pasien yang ikatannya terlepas, dan sambil memarahi suster dan pegawai yang berada di dekatnya. Begitu tau ikatan pasien itu terlepas, gue langsung tahu pasien ini pasti ingin "lari". dan dugaan gue benar !!! Pasien itu tiba-tiba berdiri dari tempat tidurnya dan langsung meninju suster,sambil lari ke arah gue. Otomatis, kaki gue juga langsung berlari ke arah pintu keluar dan gak sempat berpikir kalo gue ternyata udah pipis duluan di celana. hahahaha.

Anyway, sebelum gue sadar bahwa gue pipis di celana, gue sempat menyaksikan kalau setelah percobaan lari dan tonjok-menonjok pasien itu dengan suster, pasien itu langsung disekap dan diikat di tempat tidurnya. Dan setelah itu, gue baru nyadar kalau gue udah pipis di celana sambil bersyukur kalau gue bisa juga lari dari kejaran orang gila. :)

But, pelajaran dalam hidup yang bisa gue petik dari koskap ilmu kejiwaan, bahwa dalam setiap hidup manusia, terdapat banyak cobaan masalah atau stressor yang mau tidak mau harus dihadapi. Jika kita terlalu memikirkan stressor itu, maka lama-kelamaan jiwa kita juga akan rusak. Maka dari itu, ENJOY YOUR LIFE ! Terima nasibmu, Jalani Hidupmu, Bersyukur, dan selalu berdoa kepada Allah swt agar jiwa dan jasmani kita selalu dilindungi olehNYA.


By : Nini Adiany

Selasa, 20 Desember 2011

Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson

Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson


I.                   PENDAHULUAN

Erik Erikson (lahir di Frankfurt-am-Main, Jerman, 15 Juni 1902 – meninggal di Harwich, Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat, 12 Mei 1994 pada umur 91 tahun) adalah seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan teori tentang delapan tahap perkembangan pada manusia. 1

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. 2          
 
Erikson menggambarkan siklus kehidupan manusia itu sebagai suatu proses yang terdiri dari delapan fase dari bayi hingga lanjut usia. Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidakberhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya. Pembagian tahap-tahap ini berdasarkan periode tertentu dalam kehidupan manusia: bayi (0-1 tahun), balita (1-3 tahun), pra-sekolah (3-6 tahun), usia sekolah (6-12 tahun), remaja (12-18 tahun), pemuda (usia 18-40 tahun), separuh baya (akhir 40-65 tahun), dan manula (usia 65-an dan seterusnya). 1,8

Teori Erikson dikatakan sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang pertama, karena teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan. Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia. 2

Developmental Stage
Crisis
Significant persons
Infancy (0-1 thn)
Trust vs Mistrust
Mother or mother substitute
Toddler (1-3 thn)
Autonomy vs Shame and Doubt
Parents
Early Childhood (3-6 thn)
Initiative vs Guilt
Entire Family
Middle Childhood (6-12 thn)
Industry vs Inferiority
School & neighborhood
Adolescence (12-18 thn)
Identity vs Identity Confusion
Peers,national leadership models
Young adulthood (18-40 thn)
Intimacy vs Isolation
Intimates, usually of opposite sex
Middle years (40-65 thn)
Generativity vs Stagnation
Expanded family, institutions
Later years (+65 thn)
Ego Integrity vs Despair
Those who promote sense of usefulness

More ? Download this document. It's FREE :

Rabu, 30 November 2011

Gangguan Obsesif - Kompulsif

Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.
PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui. Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. 
Penyebab Obsesif Kompulsif adalah: 
  1. Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). 
  2. Organik – Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD. 
  3. Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah. 
  4. Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD.
  5. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan 
  6. Konflik - Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan antara suami-istri, di tempat kerja, keyakinan diri.
Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Perilaku yang obsesif pada ibu depresi berusaha berkali-kali atau berkeinginan untuk membunuh bayinya.
INDIVIDU YANG BERISIKO
Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah; 
  • Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home, kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan) 
  • Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, ganglia basalis dan singulum. 
  • Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi 
  • Riwayat gangguan kecemasan 
  • Depresi 
  • Individu yang mengalami gangguan seksual
GEJALA
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan bahaya.
Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut. Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Gejala ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utam obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan. 
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.
CIRI-CIRI OBSESIF KOMPULSIF
Simptom dari Obsesif Kompulsif ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya. 
  5. Obsesi dan kompulsi menyebabkan terjadinya tekanan dalam diri penderita dan menghabiskan waktu (lebih dari satu jam sehari) atau secara signifikan mengganggu fungsi normal seseorang, atau kegiatan sosial atau suatu hubungan dengan orang lain. 
  6. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang seperti mencuci tangan & melakukan pengecekan dengan maksud tertentu.
BERBAGAI PERILAKU GANGGUAN YAN SERING TERJADI : 
  • Membersihkan atau mencuci tangan 
  • Memeriksa atau mengecek 
  • Menyusun 
  • Mengkoleksi atau menimbun barang 
  • Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif) 
  • Takut terkontaminasi penyakit/kuman 
  • Takut membahayakan orang lain 
  • Takut salah 
  • Takut dianggap tidak sopan 
  • Perlu ketepatan atau simetri 
  • Bingung atau keraguan yang berlebihan. 
  • Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan bilangan)
Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran intrusif tanpa tindakan repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya seperti diatas.
TREATMENT/PENANGANAN
Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.
Farmakologi
Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan.
Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro),
paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa)
Trisiklik (Tricyclics)
Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik merupakan obat-obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan SSRIs. Pemberian obat ini dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian jenis obat ini adalah peningkatan berat badan, mulut kering, pusing dan perasaan mengantuk.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine (Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid (Marplan). Pemberian MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang rasa sakit (seperti Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.

Source : http://www.psychologymania.com

Dampak Bahaya Onani pada Kesehatan Jiwa


Onani atau masturbasi merupakan fenomena yang berhubungan dengan perilaku seksual yang penuh dengan kontroversi. Sebagian orang beranggapan masturbasi sebagai sebuah kebiasaan yang wajar dan menyenangkan. Tetapi pada kelompok lain justru dianggap merupakan aktivitas penodaan diri atau “zelfbevekking” yang dapat menimbulkan kelainan psikosomatik dan aneka dampak buruk lainnya.

Selain itu ada juga menyatakan hal itu normal bila dilakukan oleh remaja, tetapi abnormal bila yang melakukannya anak-anak atau orang tua. Hal ini disebabkan pada masa remaja terjadi proses pematangan seksual disertai oleh fantasi seksual yang memuncak dan tidak mendapat penyaluran yang wajar, ditambah lagi adanya pengaruh dari luar berupa tayangan televisi, film, tabloid, majalah, buku-buku yang kesemuanya membangkitkan rangsang seksual yang kuat.



Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, dan keasyikan bersama.


Definisi
Ada beberapa istilah yang sering digunakan berkaitan dengan masturbasi. Istilah-istilah itu antara lain : onani Dalam ajaran Islam, masturbasi dikenal dengan nama ; al-istimna’, al-istima’bilkaff, nikah al-yad, al-I’timar, atau ‘adtus sirriyah. Sedangkan masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf.
Masturbasi adalah suatu usaha menimbulkan rangsangan dan kepuasan seksual pada diri sendiri (auto – erotic). Biasanya ini merupakan pendahuluan yang normal sebelum perilaku hetero-seksual (yang berhubungan dengan objek seksual).

Kapan mulai timbul?
 Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa stimulasi seksual diri sendiri sudah ada sejak bayi. Bayi belajar menelusuri fungsi  jari dan mulutnya untuk menjelajahi seluruh tubuhnya, termasuk organ seksnya. Pada usia 15 – 19 bulan mereka mulai merasakan sensasi menyenangkan setiap sentuhan pada genetalianya. sensasi ini menyebabkan kesenangan masturbasi. Mendekati masa pubertas peningkatan hormon seksual dan ciri-ciri sex sekunder mulai berkembang akan  meningkatkan keinginan seksual dan dorongan masturbasi bertambah kuat

Bagaimana terjadinya ?
Seorang remaja  secara fisik mampu  coitus dan orgasme, tetapi dihambat oleh kendali norma sosial,dia berada diantara keadaan yang bertentangan dari membangun identitas seksualnya dan pengendalian dorongan seksual. Keadaan ini menyebabkan ketegangan seksual yang membutuhkan pelepasan. Cara  yang normal untuk mengurangi ketegangan seksual adalah melalui onani atau masturbasi


Masturbasi menyebabkan gangguan mental atau menurunkan potensi seksual?
Mitos-mitos mengatakan bahwa onani atau masturbasi akan menyebabkan mani encer, impotensi, tidak bisa punya keturunan dsb. Namun Tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut melalui penelitian.
Masturbasi menjadi patologis bila dilatar belakangi tindakan kompulsif yang mengendalikan individu. Gangguan emosional yang terjadi bukan disebabkan oleh perilaku seksual, tetapi oleh anggapan-anggapan yang salah dan celaan serta ancaman dari masyarakat    tindakan kompulsif dan rasa bersalah akibat ancaman dan celaan dari luar.

Penatalaksanaan.
1. Jangan biarkan diri terjerat dengan fantasi seksual.
2. Bila fantasi tsb muncul alihkan kearah kegiatan yang positif seperti olah raga, kesenian, kerja sosial dsb.
3. Sesuai dengan penyebab yang mendasarinya.
4. Bila perilaku ini sudah merupakan perilaku yang kompulsif, perlu diberikan anti kompulsif.

Source : www.artikelkedokteran.com

Anamnesis Pasien Psikiatrik


Riwayat psikiatri sangat penting ditanyakan dalam langkah awal untuk melakukan anamnesis kepada pasien yang mengalami gangguan psikiatrik. Hal-hal yang penting yang harus ditanyakan:

A. ANAMNESIS

1.  Identitas pasien seperti nama, alamat, umur, dan pekerjaan.

2. Keluhan utama pasien, hal utama yang membuat pasien dating menemui dokter. Dalam beberapa kasus yang berat ada kalanya kita tidak dapat menanyakan pada pasien karena pasien telah dalam keadaan gangguan kejiwaan yang berat, untuk itu kita juga dapat menanyakan hal ini kepada keluarganya.

3. Setelah itu tanyakan bagaimana penyakit itu bermula, bagaimana awal mula gangguan kejiwaan itu terjadi, sejak kapan, dan bagaimana keberlangsungannya, ini bermakna karena kebanyakan penyakit psikiatrik mengalami beberapa fase sebelum menjadi semakin parah.

4. Riwayat penyakit terdahulu, apakah pasien pernah mengalami penyakit yang dapat memicu terjadinya gangguan kejiwaan seperti demam tinggi, riwayat trauma kepala, mengkonsumsi obat-obatan Parkinson, obat anti-hipertensi dan kotikosteroid dalam jangka waktu lama.


5. Riwayat pribadi mencakup mengenai riwayat kelahiran pasien, apakah dia cukup bulan atau tidak, proses dilahirkan melalui Caesar atau normal, dan apakah ada masalah saat dia dalam kandungan. Jika pasien telah menikah, tanyakan mengenai pernikahannya. Intinya pada segmen ini kita harus menggali mengenai pribadi pasien.

6. Riwayat keluarga, tanyakan apakah di dalam keluarganya ada yang mengalami gangguan jiwa atau tidak.

B. MENTAL 


1. Penampilan saat pasien datang, dari penampilan dapat memberikan ciri khas pada beberapa penyakit psikiatrik, contohnya pada pasien mania biasanya mereka berpakaian dan berdandan berlebihan tidak sesuai dengan tempatnya. Contohnya mereka ke dokter seperti akan ke acara pernikahan.

2. Cara bicara, perhatikan pasien saat bicara. Biasanya pada pasien depresi mereka cenderung tertutup dan kurang member informasi, sedangkan pada pasien mania, mereka berbicara terus-menerus tiada henti.

3. Mood atau suasana hati

4. Pikiran seperti bagaimana perhatian pasien, daya memorinya, apakah dia dapat menentukan sikap, serta cara berbahasa.

5. Persepsi, tanyakan apakah pasien merasa ada yang berbisik, atau melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh dokter untuk mengetahui apakah pasien mengalami halusinasi.

6. Sensorium dimana pasien sering merasa kesemutan

Psikodinamik formulasi adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh pasien. Seperti penolakan (deny), pada saat disalahkan dia akan menyalahkan orang lain, menggunakan orang lain untuk mencapai tujuannya.
Clinical Interview adalah cara yang dilakukan pemeriksa dalam menggali informasi kepada pasien agar pasien mau bercerita kepada dokter dengan leluasa. Hal ini dapat dicapai dengan menimbulkan kedekatan (rapport), kepercayaan (trust), penjaminan (reassurance), dan memberikan respon emosional yang positif
.
Dalam mengatasi dan menangani pasien yang mengalami gangguan kejiwaan perlu cara khusus. kita harus melakukan beberapa tahapan yaitu:
  1. Refleksi, yakni saat pasien menceritakan hal-hal yang membuatnya depresi, kita dapat memberikannya support bahwa sesungguhnya bukan hanya dirinya yang mengalami hal itu, masih banyak orang lain yang mengalami hal yang sama bahkan lebih berat. Dengan cara begini pasien akan merasa tidak sendiri.
  2. Silence, yakni pada saat pasien bercerita, cobalah untuk diam dan mendengarkan bahkan saat dia menangis cobalah untuk diam hingga pasien selesai bercerita.
  3. Confrontasi, memberikan pernyataan yang lebih mendorong pasien. Contohnya saat pasien bercerita bahwa dirinya sering berhenti kerja karena merasa bosan, dokter berkata: “mungkin jika ibu lebih bersabar, hasilnya bisa lebih baik”.
  4. Klasifikasi, dimana setelah pasien bercerita, menuturkan masalahnya, dokter mencoba untuk mengelompokkan pokok permasalahannya
  5. Setelah mengelompokkan permasalahn yang dihadapi oleh pasien, pemeriksa berusaha untuk menginterpretasikan atau menilai permasalahan tersebut.
  6. Interpretasi
  7. Summation adalah membuat kesimpulan atas permasalahn yang dihadapi oleh pasien.
  8. Explanation, pemeriksa menjelaskan mulai dari pokok permasalahan hingga cara mengatasi masalah pasien. Mulai dari rencana pengobatan hingga pemecahan masalah.
Source : Www.artikelkedokteran.com

nhini.imud.ndud.qiyut

nhini.imud.ndud.qiyut